Jumat, 06 Mei 2016

Menjadi biasa seiring berjalannya waktu


Taken pict by www.pinterest.com
Dulu, petuah mengatakan bahwa yang sering mengabari akan kalah dengan yang selalu ada. Tapi seiring berjalannya waktu, yang selalu ada akan pergi juga; sibuk dengan rutinitas masing-masing. Kesibukan itu tanpa disadari telah membuat jeda antar keduanya. Kesibukan itu tanpa disadari telah menjadi raja yang membatasi antar keduanya. Kesibukan itu tanpa disadari telah menghilangkan rasa saling memiliki. Kesibukan itu tanpa disadari telah menjadikan keduanya sosok yang saling tak bertegur sapa. Kesibukan itu tanpa disadari membuat keduanya terbiasa sibuk sendiri. Kesibukan itu tanpa disadari telah menyadarkan keduanya bahwa yang selalu ada pada akhirnya juga berlaku seperti sosok yang dulu hanya memberi kabar. Kesibukan itu telah mengubah ia yang selalu ada menjadi ia yang selalu mengabari. Apakah kesibukan lantas membunuh rasa yang dulu pernah ada? Rasa untuk terus bersama, rasa untuk terus bertegur sapa lebih dari sekedar mengirim pesan via ponsel, rasa untuk selalu ada waktu untuk sekedar berdiskusi atau mengobrol tentang sesuatu hal.
Maka, tak salah bukan jika ‘yang selalu ada’ dan nyatanya sudah menjelma menjadi ia yang hanya memberi kabar tergantikan dengan ia yang selalu beraktivitas bersama? Bukankah pepatah Jawa itu benar “witing tresno jalaran soko kulino” bahwa cinta itu datang karena terbiasa bersama. Dulu, semuanya juga berawal dari bercanda. Berawal dari saling bertegur sapa. Berawal dari sibuk berkegiatan bersama. Dan akhirnya menunggalkan keduanya. Jadi, jika semua tak berjalan seperti pada awalnya, maka sejarah akan mengulang kejadian yang sama namun dengan sosok yang berbeda. Jangan salahkan. Karena semua mengalir begitu saja tanpa kita mau dan kita sadari.

Entah siapa yang harus disalahkan? Kesibukan kah? Kedunya kah? Tak ada yang salah. Semua mengalir begitu saja seperti perasaan dan juga rindu.

Perasaan itu mengalir seperti air tanpa kita tahu akan terhenti oleh apa. Ia hanya terus mengalir hingga berhenti pada satu muara.

Rindu itu seperti hujan yang datangnya tak bisa dihentikan. Hanya bisa dirasakan dan dilihat hingga tuntas dan ia berhenti dengan sendirinya.

Jadi, bukan kesibukan dan keduanya yang bersalah. Hanya saja, semuanya harus bisa imbang agar tidak perlu mengorbankan salah satunya. Kau tahu bukan, sudah terlalu lama kita berkorban dan apa salahnya jika tanpa berkorban pun kita tetap bisa berbagi kebahagiaan orang lain. Namun nyatanya, seiring berjalannya waktu semua menjadi biasa. Kembali menjadi sosok yang sibuk dengan kesibukan masing-masing. Harus kah? 
 
Terimakasih telah mengajari indahnya sabar dan ikhlas. Tapi ingat, sebagai manusia biasa tingkat kesabaran dan keikhlasan ini ada batasnya.

Jogja, 6 Mei 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar