Selasa, 09 Februari 2016

Astana Giribangun


Gerbang masuk menuju lokasi pemakaman
Hai.. Tak terasa masa holiday sudah menyapaku. Sungguh memang tak terasa. Sebab musababnya adalah kegiatan sehari-hariku tak banyak berubah, tetap berputar seperti roda sepeda; mengajar di pagi, sore, dan malam hari, ngaji ke habaaib di pondok Jogja, tanggung jawab kepada tiga organisasi dengan posisi yang tak jauh berbeda, sibuk dikejar deadline tulisan, kejar tayang novel perdana, dan kesibukan lain seperti biasa. Dari semua kesibukan setidaknya berkurang satu tanggung jawab yakni kuliah. Kuliah libur hingga tiga minggu. Hampir sebulan memang, jika ditambah satu minggu lagi. Namun tetap saja kuurungkan niat untuk pulang kampung meski rindu sudah menumpuk-numpuk sejak beberapa tahun lalu kepada keluarga dan teman-temanku. Ya ini karena sebentar lagi aku terjun ke lapangan; KKN (Kuliah Kerja Nyata). Tanpa disadari sejak aku tiba di Jogja beberapa tahun lalu dan kini sudah hampir selesai kuliahku, aku belum pernah pulang ke kampung halaman. Hanya terhubung via posel saja. Kudengar sudah banyak berubah kampung halamanku. Tapi tak apalah, ini akan jadi kejutan indah saat nanti ku pulang. Hmmmm…. Aceh…

Oke… penat memang. Otak juga punya hak untuk sejenak beristirahat agar lebih fresh. Maka kuputuskan untuk pulang ke rumah nenek di Solo. Biarlah selama tiga hari aku menjadi gadis Solo saja dan melarikan diri dari tanggung jawab yang se-abrek.. maafkan… hanya rehat sebentar saja hehe 

Di solo, kami mengunjungi Astana Giribangun yang terletak di Desa Girilayu, Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah. Ini adalah tempat peristirahatan pak Soeharto dan Ibu Tien. Makam ini dibangun sedemikian rupa dan dijaga oleh beberapa karyawan sehingga tetap terjaga. Memasuki pemakaman ini, pemimpin rombongan harus memperlihatkan kartu identitas serta memberikan uang administrasi tanpa nominal (secara ikhlas). 

Sempat berpikir, dengan sistem penjagaan yang sedemikian rupa darimana kah dana diperoleh untuk menggaji para karyawan? Temanku berpendapat; bahwa kemungkinan besar semuanya ditanggung oleh pihak keluarga. Tidak mungkin ada dana dari pemerintah berhubung ini adalah kepentingan pribaadi. Masuk akal juga pikirku. Bukan maksudku untuk su’udzan tetapi hanya takjub dengan penjagaan yang sedemikian rupa itu.

Tentu hal demikian membuat penziarah merasa nyaman. Dengan ketenangan dan kebersihan yang ada. Atau ini karena aku terlalu lama mendengar keramaian kota? Sehingga merasa damai dengan keramahan pedesaan? Ah entahlah, yang jelas, damai; itu yang kurasa. Lokasi pemakaman ini bernuansa sangat sejuk.
Tangga menuju masjid dan makam
Sebelum menuju makam, kami putuskan untuk singgah di masjid Giribangun. Mashaa Allah, takjub… Masjidnya indah sekali. Sungguh dengan segala kesederhanaan bangunannya justru menimbulkan kesan elegan tersendiri. Masjid ini disanggah tiang-tiang kayu dengan ukiran Jawa yang begitu khas dan indah. Atap yang tak begitu tinggi. Mengenai atap yang tak begitu tinggi seperti pada umumnya, kata temanku; ini memiliki filosofi bahwa agar orang yang memasuki masjid tetap menjaga sopan dan santunya. Sedangkan mengenai pintu masuk jamaah putra dan jamaah putri dibedakan. Pintu masuk jamaah putra berupa lorong panjang yang berada didepan dan pintu masuk jamaah putri berada disamping. Aku mengintip dari jendela masjid yang berukuran sangat besar tanpa kaca sehingga dengan mudah kita bisa mendongakkan kepala untuk melihat bagian dalam masjid. Jika diamati, masjidnya mungkin sudah tak digunakan lagi. Terlepas dari itu, masjid tetap terjaga dengan baik kebersihannya. Bersih sekali.

Sebagian dalam masjid


Lorong panjang untuk pintu masuk
Kulihat tiang-tiang yang menyangga bagian dalam masih sama yakni berhias ukiran Jawa. Kuhitung ada dua puluh tiang. Apa kah ini memiliki filosofi akan sifat wajib Allah yang 20? Ah entah juga, aku hanya menebak-nebak dan tak tau harus bertanya kepada siapa karena dibagian masjid memang tidak dijaga, hanya lokasi ini.

Berjalan lagi; disamping masjid ada Wisma Lerem. Mungkin dulu digunakan sebagai tempat istarahat atau bagaimana. 

Kami meneruskan perjalanan menuju pusara pak Soeharto dan Ibu Tien. Selain makam beliau berdua ada makam lain disana; yakni makam keluarga pak Soeharto atau pun Ibu Tien yang sudah wafat. Di luar ruang khusus makam keluarga juga ada pemakaman untuk kalangan pemimpin Karanganyar. Oh iya, khusus untuk makam pak Soeharto dan keluarga tidak diperkenankan memotret dengan kamera pribadi. Jika ingin foto bisa menggunakan jasa foto yang sudah disediakan.
Teras pemakaman pak Soeharto dan Ibu Tien
Begitulah. Tak mengapa kita berziarah ke makam bukan hanya makam ulama, pembesar, hingga orang biasa. Semua dilakukan adalah agar kita semakin ingat akan kematian. Bukankah begitu?

Karanganyar, 2 Februari 2016.

Take some pictures;



 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar