Selasa, 24 Maret 2015

Engkaulah Takdir-ku... Aktivis Literasi



Hallo, agent of change :D

Sumber : Google
“Karena, membudayakan baca dan tulis di Tanah Air Tercinta adalah tugas kita.
Kita sebagai Generasi Muda Ibu Petiwi yang kan mengharumkan bangsa ini.”
Ibu Pertiwi… Padamu kami berbakti…

Sedikit cerita, begitu banyak aktivis-aktivis yang terlahir dari gerakan-gerakan di kampus. Ada aktivis PMII, HMI, KAMMI, HTI, IMM, LDK, dan sederet aktivis di organisasi lainnya. Tak terkecuali aku. Aku juga turut serta dalam barisan terdepan sebagai aktivis kampus. Dunia kampus mentakdirkanku menjadi ‘aktivis literasi’. Aku tak mengapa jika masih ada saja yang menganggap itu gerakan yang tidak penting. Namun rasakan hasilnya jika sudah mengenal pentingnya membaca dan menulis. Seperti disinggung pak Muhsin Kalida (Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta) dan mas Moh. Mursyid (Pustakawan di Perpustakaan Emha Ainun Nadjib Yogyakarta) dalam buku Gerakan Literasi Mencerdaskan Negeri, bahwa membaca adalah sebuah cara untuk membuka mata dan pikiran untuk menembus batas-batas kejumudan, juga untuk mengatasi keterbatasan dan ketertinggalan. Sementara menulis adalah cara untuk mengikat makna yang membuat pikiran menjadi abadi dan menyejarah.

Membaca. Hal yang tak bisa dianggap sepele. Coba kita lihat orang-orang besar dipenjuru dunia. Apakah mereka orang yang malas membaca? Tentu saja tidak. Mereka adalah orang-orang yang gemar membaca, sehingga membaca bukan lagi sekedar hobi, akan tetapi sudah menjadi kebutuhan akan intelektual. Coba dilihat lagi banyak orang-orang besar yang memiliki perpustakaan pribadi. Selain itu mereka juga banyak menuliskan pengalaman, ide, atau pun pengetahuan lainnya kedalam buku. 

Kids Reading (Sumber : Google)


Membaca tidak selamanya dikaitkan dengan membaca “buku”. Membaca keadaan itu juga dinamakan kegiatan membaca. Selain itu, membaca juga bukan hanya bagi para mahasiswa, dosen, sampai orang biasa saja. Pada dasarnya membaca itu menyangkut semua lini masyarakat. Baik tua atau pun muda, baik berpendidikan atau pun tidak berpendidikan, baik kaya atau pun miskin, dan masih banyak baik-baik yang lainnya. 

Dari sisi kepemimpinan, coba kita lihat presiden kita yang sudah meluncurkan buku. Ini adalah hal positif yang bisa kita tiru. Oke ini sudah memasuki ranah kepemimpinan. Maragareth Fuller pernah mengatakan, “Today a Reader, Tomorrow a Leader”. Ini kalimat yang penuh makna. Aku tak asing lagi, karena salah seorang dosenku pernah menyinggung ini. Dosen yang begitu cerdas luar biasa dan menjadi idolaku tentunya. Jadi sebelum menjadi pemimpin, kita harus menjadi pembaca yang baik dulu, bukan hanya membaca buku tetapi juga bisa membaca keadaan masyarakat yang dipimpin. Buku adalah sumber ilmu. Negara yang dipimpin tanpa adanya ilmu tentu saja akan hancur, hancur menjadi butiran debu (kata Rumor hehe). Jadi untuk menjadi pemimpin harus berilmu, dengan membaca dan mengenyam pendidikan tentunya.

Menulis. Ini adalah aktifitas yang biasanya sepaket dengan “membaca”. Berdasarkan pengamatan pribadi, orang yang suka membaca biasanya suka menulis. 

Lagi-lagi dosenku pernah menerangkan bahwa orang yang suka membaca akan berbeda dengan orang yang tidak suka membaca, dimasa depan. Yah, aku setuju. Bahkan dari masa sekarang saja sudah kelihatan bedanya. Cara berbicaranya, cara bergaulnya, cara menyampaikan pendapatnya, dan cara-cara yang lain. 

Writing (Sumber : Google)


Ada sebuah pembahasan yang sangat menarik, menurutku. Pembahasan pak Muhsin dan mas Mursyid dalam buku Gerakan Literasi mencerdaskan Negeri, tentang kegiatan membaca dan menulis adalah bagian dari iman. Ini juga yang pak Muhsin pesankan padaku saat membeli buku beliau beberapa waktu lalu. 

Pada QS. Al-Alaq, terdapat perintah untuk membaca dan menulis, seperti bunyi ayat, “Bacalah!! Ini sudah jelas bahwa kita diajarkan untuk membaca. Selanjutnya “Yang mengajar (manusia) dengan perantara qalam (pena, tulisan)”, jelas bukan, bahwa Islam memiliki risalah mengajak umat untuk membaca dan menulis. Ayat ini juga menjelaskan bahwa menulis merupakan sarana proses transformasi ilmu dan pengetahuan.

Terkait tantang tulis menulis, aku juga teringat akan nasihat seorang dosen dengan banyak karya yang begitu masyhur, bapak Lasa Hs. Beliau selalu menyemangati para mahasiswa untuk gencar menulis. Menulis selain sebagai kegiatan menuangkan ide, gagasan, dan pengetahuan dalam bentuk buku juga merupakan amal jariyah. Beliau pernah menerangkan, manfaat yang didapat dari menulis sangat luar biasa. Meskipun jasad sudah kembali pada yang Kuasa, namun nama tetap harum dan selalu ada di alam dunia. Kenapa? Karena ilmu yang kita tulis tetap selalu dimanfaatkan oleh banyak orang. Betapa maha dahsyatnya… Tak berbayangkan bukan? Berapa banyak pahala yang kita dapat jika tulisan kita terus dimanfaatkan oleh banyak orang.

Menulis dari sisi dunia dan akhirat sudah sedikit di ulas. Dari sisi kesehatan juga tak kalah ketinggalan. Bukan hanya menulis, tetapi juga membaca. Dua kegiatan ini merupakan senam otak. Bukan hanya raga yang perlu olah raga, namun otak juga perlu. Jika rutin dilakukan akan mencegah penyakit “lupa” yang kini sudah tak mengenal batas usia, muda atau pun tua. 

Pembaca yang budiman.. Sesungguhnya membaca bukanlah sekedar kegiatan membaca. Jika raga saja perlu makan untuk bertahan hidup dan jika batin saja perlu ibadah religious supaya tetap hidup, maka otak sebagai ruang untuk berpikir juga perlu nutrisi, karbohidrat, protein, dan lain sebagainya untuk terus bisa produktif dengan terus berpikir (membaca dan menulis). Otak juga bisa mengalami haus dan lapar akan intelektual, maka sudah sepatutnya kita memenuhi hak otak kita dengan asupan ilmu pengetahuan yang bisa kita peroleh dari membaca dan menulis.

Membaca dan menulis. Dua hal yang tak asing lagi bagi kami para “aktivis lietarasi”. Aktivis literasi yang tak lelah menyuarakan “membaca dan menulis” bukan dengan demonstrasi tentunya. Tetapi dengan berbagai kegiatan yang menyentuh seluruh masyarakat, itu sudah merupakan upaya baik yang kami lakukan. 

Menjadi “aktivis literasi” itu rasanya nano-nano hehe. Yah, banyak sukanya sih dibanding dengan dukanya. Tanya kenapa? Karena semua dilakukan dengan ‘cinta’. Cinta-ku pada ibu pertiwi dan cinta-ku pada anak bangsa supaya bisa menjadi generasi yang membanggakan dan mengharumkan nama bangsa serta menjadikan bangsa lebih maju lagi.

Ini hanya lah secuil curahan hati salah seorang “aktivis literasi”. Semoga bisa membangun dan mengubah mindset kita tentang membaca dan menulis yang sesungguhnya.

Pesan moral dari buku ‘Gerakan Literasi Mencerdaskan Negeri’ :

“Menjadi harga mati bahwa mahasiswa sebagai generasi muda dituntut untuk melanjutkan tongkat estafet perjuangan intelektual para pendahulunya. Hal ini bisa diwujudkan dengan cara menjadi mahasiswa “BBM” (berorganisasi, baca, dan menulis)”.

“Budaya baca dan menulis harus ditanamkan sejak dini. Pada dasarnya, anak ibarat tanaman, hanya akan tumbuh subur bila mendapatkan asupan gizi berupa pupuk yang layak dan sesuai.”

“Seorang pemimpin harus terlebih dahulu menjadi seorang pembaca yang baik, tidak hanya bisa membaca buku, tetapi juga membaca keadaan dan kondisi masyarakat yang akan dipimpinnya.”

“Melek aksara bukan hanya sebatas membaca, menulis, dan berhitung, tapi juga mampu memanfaatkannya sebagai alat berkomunikasi, menyampaikan ide dan gagasan kepada orang lain untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang.”

24 Maret 2015, Yogyakarta.


2 komentar: