Minggu, 20 Juli 2014

SURAT KECIL UNTUK CINTA (Part 3) END





“Surat Kecil Untuk Cinta”  
Cerpen sastra



Setelah shalat Isya Ais terduduk di bibir tempat tidur kamar. Ayah dan ibu pergi ke solo, ke rumah nenek  setelah Ais di wisuda. Sementara Ais harus tetap di Jogja karena mengurus persiapan beasiswa  ke Turki juga menemani ustadzah Sayyida yang sedang ditinggal keluar kota. Ia buka kotak biru yang berpita biru dari Nizam. Di dalamnya ada kotak kecil berwarna merah dan sepucuk surat berwarna merah muda, ia buka kotak kecil berwarna merah  itu, betapa terkejutnya ia kotak kecil merah itu berisi cincin. Dengan segera ia buka sepucuk surat berwarna merah muda itu dan ia baca.




Jogja, 24 Agustus 2014

Teruntuk: Aisyah Al-Hamra

Assalaamu’alaikum Wr.wb.
Ba’da tahmid dan shalawat.
ana wa anti kulllu aam bikhair...........
(saya dan kamu setiap tahun dalam keadaan baik)
Salam ukhuwah, Aisyah Al-Hamra .
Kayfa haaluki? (bagaimana kabarmu?)
Saya harap tetap baik-baik saja dan semakin bersemangat untuk terus muhasabah diri dan semangat dalam tholabul ‘ilmi.
Tidak panjang lebar Ais, saya ingin membicarakan suatu hal dengan Ais.
Ais ada berapa hal yang harus Ais ketahui sejak pertemuan yang tak terduga di tangga dan begitu seringnya bertemu di pondok karena saya mengajar kelas Ais disana. Setiap malam saya selalu beristikharah  panjang untuk meyakinkan hati ini. Dan dalam istikharah panjang itu, Allaah memantapkan hati saya, menjadikan Ais sebagai ibu dari anak-anak saya nantinya.
Ais tahu kenapa saya tak pernah beri isyarat apapun? Karena saya tak ingin Allaah murka dengan cara yang salah ketika menjemput Ridha-Nya.
Ais, saya akan mengkhitbah Ais. Ais lihatkan kotak kecil berwarna merah dalam kotak kado yang saya beri?
Saya beri Ais waktu satu Minggu untuk berfikir dan beristikharah. Apapun hasilnya tolong Ais sampaikan kepada Pak Burhanuddin. Sekali lagi saya tidak bermaksud apa-apa, saya hanya takut Allaah  murka. Ais Pak Burhanuddin sudah saya percaya dalam hal ini.
Khusyukkan  hatimu dalam istikharah panjangmu Ais. Karena menikah adalah hal yang amat sangat disunahkan namun jika kita salah jalan ketika menujunya justru murka yang kita dapat bukan Ridha-Nya. Menikah juga hal yang dipenuhi tanggung jawab di dalamnya. Ais, istri adalah bunga di taman rumah tangga. Ia laksana semilir angin lembut yang berhambur di cakrawala keluarga sehingga menjadikannya taman yang elok nan asri. Istri pulalah yang nantinya menjadi “Madrasatul Uula” (sekolah pertama) bagi putra-putri mereka.  
Ais, menikah adalah Sunah Rasul yang sangat dianjurkan dan saya merasa sudah mampu, maka nikah menjadi wajib hukumnya bagi saya.
Allah berfirman : “Dan kawinlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya, dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. An-Nur (24): 32 )
Ais inilah Prakata saya.
Semoga Allaah menaungi langkah kita
Semoga Allaah mengiringi perjalanan hidup kita  untuk tetap istiqamah di jalan-Nya. Hingga ajal datang merenggut nyawa. Aamiin...

Jadilah engkau Bidadari surga teruntuk suamimu kelak Ais. Jadikan ia pakaianmu dan engkau juga menjadi pakaian baginya.



Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.



Washilah-mu





Nizamuddin



Surat Kecil Untuk Cinta*

Berdesir hati Ais membaca sepucuk surat berwarna merah  muda Nizam. Bahkan air mata tumpah membanjiri parasnya. Betapa tidak? Sosok yang  Ais kagumi dalam diam, ia datang menghampiri. Segera Ais bersujud syukur dengan linangan air mata bahagia. Ia  letakkan surat di atas meja dan bergegas berwudhu kemudian shalat dua rakaat. Dalam  sujud  terakhirnya ia hayati dengan dalam. Dalam doanya ia  haturkan ribuan kali syukur dan  terima kasih kepada Allaah ta’aalaa karena telah mengirimkan washilah yang luar biasa yang akan berjuang bersama menuju mardhaatillaah. Setelah ia tunaikan shalat segera ia berlari menuju ustadzah Sayyida yang sedang membaca buku di ruang tengah.
“Ustadzah..” Sembari Ais memeluk ustadzah diiringi isak tangis.
“Kenapa, Nak?” Ustadzah bingung melihat Ais yang menangis.
Ustadzah merebut kertas ditagan Ais. Membaca surat dari Nizam.
Allaahu Akbar.. Alhamdulillaah… Baarakallaah Nak.” Ustadzah juga hujan tangis.
****
 
Dalam waktu seminggu, ia diskusikan perkara beasiswa S2  di Turki dan ia jelaskan  bahwa Nizam akan segera mengkhitbahnya. Ais jelaskan siapakah sosoknya yang sebenarnya. “Ayah dan Ibu, mas Nizam adalah  mahasiswa pascasarjana di UIN Sunan Kalijaga dan telah lulus tahun ini. Sama seperti Ais, ia juga melanjutkan studi ke jenjang S3 di Turki. Selama menjalani kuliah di pascasarjana. Ia juga menjadi asisten dosen di Prodi S1 di UIN Sunan Kalijaga. Ia juga menjadi asisten dosen di Prodi S2 di pascasarjana. Satu  hal yang harus ayah  dan ibu ketahui Mas Nizam tinggal di Pondok Pesantren Krapyak (Al-Munawir) sebagai Ustadz di sana sama seperti ustadz Burhanuddin dosen Ais, ia juga ustadz di pondok Wahid Hasyim tempat Ais mondok.” Tutur Ais panjang lebar.
            Ia jelaskan semuanya dengan gamblang dan panjang lebar tentang Nizam yang ia dapat infonya dari Ustadzah Sayyida dan pak Burhanuddin, dosennya.
Melalui istikharah panjang setiap malam, ia taukidkan (kuatkan) hatinya. Menjadikan Nizam imam di keluarga kecilnya.

****
Dua September 2014  Nizam dan keluarganya dari Lampung bersilaturahmi ke kediaman Ais di Jantho,  Aceh Besar. Tak lain dan tak bukan ini adalah prosesi khitbah.
Setelah itu kedua belah pihak  menentukan kapan walimatul ‘ursy-nya dan  hal-hal lain yang berhubungan dengan walimatul ‘ursy. Tiga hari berdiskusi, keputusan pun sudah didapati. Nizam dan keluarganya pun kembali ke Lampung.
Assalaamu’alaikum, Ais. Sujudilah cintamu. Jadilah engkau bidadari surgaku. Jadilah engkau  zaujatii yang kan berjuang bersama menggapai Ridha-Nya. Sampai bertemu di walimatul ‘ursy yaa zaujatii, habibatii anti.” Pesan  Nizam ke ponsel Ais.
Wa’alaikumussalaam. In syaa Allaah. Bi idznillaah (dengan izin Allah) hati-hati dijalan yaa zaujii” pesan balasan Ais ke ponsel Nizam.
                                                           
****
Di bawah naungan rumah Allaah yang suci dan di depan para saksi, ijab qabul yang  sangat sakral pun berlangsung. Ais  mengenakan gamis  berwarna putih dan dibalut kerudung putih yang bermotif perak. Nizam dengan setelan jazz hitamnya disertai peci. Ais duduk ditemani Ibunya, menyaksikan Nizam yang akan ijab qabul di depan penghulu dan ayahnya yang disaksikan oleh para saksi dan masyarakat sekitar. Ini membuat hati Ais berdesir dan gugup. Prosesi ijab qabul pun dilaksanakan dengan mahar ‘kupinang engkau dengan hafalan Al-Qur’an 30 juz’ itulah mahar cinta yang diberikan Nizam kepada Ais. Ijab qabul berlangsung dengan baik pada Minggu 8 September 2014.
Usai Ijab Qabul, Ais raih tangan Nizam kemudian ia kecup. Ada rasa lega sekaligus bahagia yang tiada tara di hati Ais. Nizam kecup kening Ais dengan tulusnya. “Ais, kita sudah halal” kata  Nizam dengan penuh kelembutan diiringi senyuman. Ais hanya bisa tersenyum, luapan  kebahagiaan yang saya rasakan tidak bisa ia ucapkan lagi dengan kata-kata.
Senin 9 September 2014, walimatul ‘ursy berlangsung. Para tamu undangan hadir, tak luput pula para ustadz dan ustadzah ketika Ais mondok di Medan juga hadir. Karena jarak yang cukup jauh, para dosen di UIN Jogja seperti pak Burhanuddin tidak bisa menghadiri walimatul ‘ursy Nizam dan Ais. Sehingga Nizam memiliki inisiatif akan mengadakan syukuran atas pernikahan mereka ketika di Jogja nanti. Sehingga tak hanya dosen tetapi teman mondok dan para asatidz Nizam juga bisa hadir, yang dari Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Jawa Timur, pondok Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta serta Pondok Wahid Hasyim Yogyakarta.
Baarakallaahu lakumaa  wa baaraka ‘alaikumaa  wa jama’a bainakumaa fii khair” ucap ustadzah Aimunah dengan senyum dan merangkul Ais. Beliau adalah salah satu ustadzah Ais dipondok Medan yang dekat dengan Aisa. “syukraan katsiiraan ustadzah” jawab Ais.

****
Sabtu 14 September 2014, waktu di mana Nizam dan Ais harus melanglang buana ke Turki untuk menempuh studi. Mereka berpamitan dengan keluarga yang mengantar sampai bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Mereka  lambaikan tangan dari pintu pesawat. Keluarga dari Aceh dan keluarga dari Lampung  yang pasti akan dirindukan.
“Ais, ini adalah perjuangan awal kita. Apapun dan bagaimanapun nanti ‘Laa Tahzan wa laa takhaf  yaa zaujatii, karena abang selalu ada di hati Ais. Kita hadapi semua bersama.” Tegas Nizam sembari menggenggam kedua tangan Ais dan mengecupnya ketika mereka duduk di dalam pesawat. “Selama ada abang di hati Ais, Ais tidak akan  sedih dan  takut bang” jawab Ais sembari menyandarkan kepala di bahu Nizam. Sosok yang dahulu dipanggil ‘Mas’ olehnya.
TURKI, bukan hanya tempat mereka studi. Ia juga menjadi tempat berbulan madu juga tempat yang akan menjadi saksi hidup untuk Nizam dan Ais. mereka memiliki selaksa mimpi yang sama yang akan mereka  perjuangkan bersama. Dan bisa kembali ke negeri tercinta dengan membawa ribuan  ilmu yang mereka persembahkan untuk Indonesia. Terutama untuk keluarga di Aceh dan di Lampung.

****
Kala itu, bahkan sampai detik ini Ais merasa menjadi wanita paling bahagia karena memiliki suami seperti  Nizam. Sosoknya yang shaleh, tampan, hafidz Qur’an 30 Juz, cerdas, dan tegas tapi penyayang membuat dirinya  merasa amat sangat beruntung bersanding dengan Nizam. Tak terduga sosok yang hanya bisa Ais kagumi dalam diam ketika kuliah di UIN Sunan Kalijaga kini ia menjadi suaminya.
Dan detik ini, mereka  menjejakkan kaki di ranah yang sama. “TURKI”. Ilmu perpustakaan S2 yang harus Ais tempuh dan  Islamic Studies S3 yang harus  Nizam tempuh.

****
Kotak kado berpita biru yang berisi sepucuk surat berwarna merah jambu dan kotak kecil berwarna merah yang berisi cincin. Itu menjadi kenangan yang tak terlupakan. Kenangan yang menjadi washilah  ketika Allaah menyatukan mereka dengan Ridha-Nya.
Surat kecil untuk cinta” itulah kata Nizam ketika Ais tanya tentang sepucuk surat berwarna merah muda yang Nizam berikan di hari wisuda Ais waktu lalu.

TAMAT

Semoga kisah ini mampu menginspirasi untuk terus istiqamah menjaga hati, menjaga pandangan, menjaga lisan, menjaga perbuatan, menjaga semuanya.
Yakinlah, bahwa Allaah tahu yang terbaik untuk hambanya. 
Tugas kita sebagai hamba hanya beribadah, berusaha, berdoa dan bertawakkal kepada Allaah tanpa melupakan mu'amalah ma'aAllaah dan mu'amalah ma'annas.
Sebaik-baik umat adalah yang bermanfaat untuk yang lainnya.
Semoga secuil kisah ini mampu menginspirasi.
Aamiin....

Di penghujung kisah ini, ia terbungkus rapi ditemani alunan merdu Syaikh Mishaary Rashid Al-'Afaasi surat Ar-Rahman..
"Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan."


Kota Pelajar
Yogyakarta 20 Juli 2014
23 Ramadhan 1435 H

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar