Kamis, 08 Mei 2014

CELOTEH PUSTAKAWAN


 
Taken pict by Google

AKU INGIN MENJADI PUSTAKAWAN SPESIALIS
Oleh: Rima Esni Nurdiana

Ringkasan
Pustakawan ialah seseorang yang bekerja di perpustakaan sesuai dengan lembaga induk serta berdasarkan ilmu yang dimiliki melalui pendidikan. Pada hakikatnya pula, pustakawan dikatakan sebagai profesi. Karena memiliki Assosiasi profesi, memiliki latar belakang pendidikan yang jelas, memiliki kode etik, berorientasi pada jasa, dan adanya tingkat kemandirian.
Namun, hal-hal tersebut di atas  masih sangat awam diketahui oleh masyarakat kita. Mayoritas paradigma mereka tentang pustakawan ialah bahwa siapa saja bisa menjadi seorang  pustakawan tanpa melalui pendidikan sekalipun. Padahal yang dikatakan pustakawan itu haruslah memiliki latar belakang pendidikan. Salah satunya dilihat dari tingkatan pustakawan yang bermula dari lulusan SMA/sederajat disebut pustakawan non-profesional, lulusan D2/D3 disebut pustakawan semi-profesional, lulusan S1 disebut pustakawan profesional,  lulusan S2 disebut pustakawan ahli, dan lulusan S3 disebut pustakawan spesialis. Namun, khusus untuk pustakawan  non-profesional meski tidak menempuh pendidikan di bangku kuliah, latar belakang pendidikan mereka adalah melaui training kepustakawanan. Berbeda dengan tingkatan yang lain, untuk  mendapatkannya harus ditempuh melalui pendidikan di bangku kuliah. Jika melihat realita di negeri kita Indonesia, masih amat sangat langka pustakawan yang menempuh pendidikan samapai S2 atau  S3. Salah satu  penyebabnya yakni penghargaan terhadap pustakawan yang masih kurang sehigga orang masih enggan menjadi pustakawan. Hal lainnya  yakni instistusi yang menyediakan  jurusan Ilmu Perpustakaan untuk studi S2 masih langka. Bahkan  untuk S3 hanya bisa ditempuh di luar negeri, karena di Indonseia tidak menyediakan. Jika pun di Indonesia ada tidak bersifat independen tetapi masih berdiri dibawah naungan bidang keilmuan yang lain.
 Perihal tetang penghargaan  terhadap pustakawan di negeri kita sangat kontras dengan yang terjadi di negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, Spanyol, Kanada dll. Di negara mereka, sosok pustakawan mendapat penghargaan  baik dari masyarakat dan pemerintahnya bahkan  melebihi profesi lain. Memang miris sekali jika kita bandingkan dengan Indonesia masih jauh sekali dari hal itu. Inilah yang mendorong hati nurani saya untuk memajukan pustakawan dan perpustakaan di tanah air.
Hal lain yang perlu diketahui juga seiring berjalannya waktu, sertifikasi untuk profesi pustakawan di Indonesia sudah ditetapkan. Hal ini yang sangat diharapkan para pustakawan. Seperti di negara maju  Amerika, sertifikasi sudah dilaksanakan beberapa tahun lalu. Seperti halnya di Negara Bagian Wisconsin tepatnya di Wisconsin Public Library, sertifikasi pustakawan diberikan sejak tahun 1921 ketika Assosiasi Perpustakaan Winconsin mendesak lembaga legislatif untuk membuat kebijakan hukum sertifikasi pustakawan publik. Jika mengajukan sertifikasi dirasa sulit, saya rasa dengan menjadi pustakawan spesialis yang kreatif pasti dengan sendirinya akan dilihat oleh masyarakat dan  pemerintak khususnya, tanpa harus para pustakawan  berkoar-koar meminta haknya. Apalagi jika pustakawan mampu  mengharumkan nama bangsa bukan hanya dari segi pengelolaan perpustakaannya tapi juga dalam hal lain.
Dari seribu satu mimpi itu mari kita menyusun butir-butir harapan di atas kanvas, Yakinlah orang yang sukses adalah orang yang memiliki mimpi.

Tuliskan Impianmu
Kenapa kita harus menuliskan  mimpi-mimpi kita? Coba kita lihat orang-orang yang sukses, mereka semua punya banyak mimpi yang kemudian mereka tuliskan di atas kanvas. Karena dengan menuliskan mimpi-mimpi kita, semangat kita akan terpacu untuk mencapainya bahkan  setiap detiknya waktu kita tidak terbuang sia-sia secara otomatis, karena kita sibuk pada target pencapaian mimpi-mimpi kita, kita tak mau melakukan hal-hal yang bisa memperlambat terwujudnya mimpi-mimpi kita.
 Sejauh ini sangat memberi efek jika kita menuliskan mimpi-mimpi kita. Kita tulis seribu satu mimpi kita dan kemudian tanpa disadari satu persatu akan tercoret karena kita berhasil mewujudkannya. Hal ini seperti pengalaman yang  saya dapat ketika mengikuti seminar di kampus. Saya dikenalkan melalui video dengan seorang anak muda yang terlahir dari keluarga miskin. Bahkan untuk makan saja sulit apalagi untuk mengenyam bangku pendidikan. Namun, dia tak lantas menyerah. Ia tulis seratus impiannya di atas kanvas. Bahkan  teman-teman yang melihatnya mentertawakannya tapi ia tetap diam,  tidak membalas teman-teman yang mentertawainya. Ia sibukkan diri dengan berusaha mewujudkan impiannya. Seiring berjalannya waktu tanpa disadari mimpi-mimpi itu tercoret satu persatu. Kini ia sudah berhasil mewujudkan impiannya sampai ke-84 dan mimpinya yang ke-85 ialah ia ingin mengibarkan  bendera kampusnya ITB dan bendera Indonesia di puncak Himalaya.
 Saya juga teringat pengalaman saya ketika ingin melanjutkan kuliah di Yogyakarta, semuanya saya awali dari mimpi-mimpi yang tertoreh di atas kanvas. Dengan  usaha dan doa mimpi-mimpi itu terwujud, saya berhasil kuliah di Yogyakarta melalui jalur undangan padahal waktu itu teman-teman tidak ada yang lulus jalur undangan. Dari satu angkatan hanya saya yang lulus. Haadzaa min fadhli Rabbii..
Maka  jika kita belum  punya mimpi yang tertulis di atas kanvas, maka harus ditulis sekarang juga, jangan menunda lagi. Maka tak berpikir panjang lagi, kini pun saya memiliki seribu satu mimpi yang tertoreh di atas kanvas, salah satunya yakni mejadi pustakawan spesialis.

Action
Jika kita sudah memiliki mimpi kita harus action-kan mimpi-mimpi kita dengan tindakan nyata. Karena mimpi tanpa action sama saja bohong. Jangan  biarkan  mimpi-mimpi itu hanya tertoreh di atas kanvas tapi harus ada bukti nyata pencapaianya. Jika gagal coba terus jangan pernah berhenti. Karena dengan dibalik kegagalan itu ada keberhasilan.
Orang yang suskses bukan tak pernah gagal, mereka sudah berkali-kali jatuh bangun dalam mencapai kesuksesannya. Namun, mereka tak kenal putus asa. Mereka sadar bahwa kesuksesan itu perlu usaha bukan instan.
Ibarat sayap yang saling melengkapi, ibarat  tangan dan kaki yang saling melengkapi. Begitu pula dengan mimpi dan action yang saling melengkapi. Jika kita punya mimpi tapi tidak bertindak maka mimpi kita hanya menjadi angan-angan belaka. Sebaliknya, jika kita bertindak tanpa mempunyai mimpi maka tindakan kita sisa-sia, karena kita tak memiliki tujuan dari tindakan kita. Hal ini justru akan membuat tindakan kita sia-sia.
Perlu diketahui bertindak itu sesegera mungkin, jangan menunda. Karena jika kita menunda kita akan takut bertindak karena selelu berpikir dulu bagaimana nantinya. Keseimbangan otak kanan dan otak kiri itu perlu. Otak kiri dengan menulis mimpi-mimpi kita dan otak kanan bertindak berani tanpa berpikir bagaimana hasilnya.
Dengan melihat wajah pustakawan di tanah air, maka banyak hal yang harus generasi pustakawan lakukan agar pustakawan memiliki penghargaan yang tinggi. Salah satunya menjadi pustakawan spesialis yang harus ditempuh sampai jenjang S3 dan menjadi pustakawan yang kreatif.

Jika Pustakawan Spesialis di Genggaman
Saya yakin dan percaya akan  tiba waktunya impian yang tertoreh di kanvas akan terwujud. Jika saya menjadi pustakawan spesialis kelak, saya akan menjadi  pustakawan yang profesional dan kreatif. Saya  ingin mengembangan perpustakaan tanah air agar bisa maju seperti Amerika, Spanyol, Jepang, Kanada, Rusia dll. Saya ingin menyebarkan pendidikan di pelosok-pelosok desa yang tak terjamah pendidikan melaui perpustakaan. Saya ingin mengejarkan baca-tulis melalui perpustakaan  sehingga masyarakat Indonesia tidak buta huruf dan bisa menulis. Saya ingin memajukan perpustakaan Indonesia ke kancah Internasional serta memberi reward kepada para pustakawan.
Saya juga ingin meluruskan pengelolaan perpustakaan yang dikelola bukan dari ahli perpustakaan menjadi dikelola oleh orang yang ahli perpustakaan. Hal ini supaya perpustakaan dikelola dengan baik dan benar. Karena banyak sekarang pengelola perpustakaan yang tidak memiliki latar belakang perpustakaan sehingga ini menyebabkan pengelolaan perpustakaan tidak efektif.
Saya yakin kemajuan perpustakaan ada di tangan para pustakawan yang bukan hanya cerdas mengelola perpustakaan tetapi juga kreatif dalam segala hal seperti pustakawan yang bisa membuat karya dengan menulis, pustakawan yang mampu menghilangkan kebodohan melalui perpustakaan, pustakawan yang memiliki hati nurani untuk mencerdaskan generasi muda sampai ke pelosok negeri.
Saya ingin ada studi S3 untuk pustakawan di tanah air yang berdiri independen, bukan dibawah naungan bidang keilmuan yang lain, sehingga calon pustakawan spesialis tak perlu keluar negeri untuk menuntaskan keilmuan tentang perpustakaan yang tak kalah baik seperti disana. Saya ingin pustakawan mendapat penghargaan seperti profesi yang lainnya. Karena sudah jelas bahwa pustakawan memilki kode etik, memilki latar belakang pendidikan yang jelas, ia berorientasi pada jasa dan ia memiliki tingkat  kemandirian. Padahal pemerintah mewajibkan setiap lembaga  memilki perpustakaan  tapi mengapa pustakawan  tak diberi perhatian? Maka saya ingin pustakawan mendapat perhatian.
Saya ingin menciptakan pustakawan-pustakawan yang profesional dan  kreatif sehingga saya bisa menghilangkan citra pustakawan  hanya sebagai penjaga buku saja. Bahkan kalau perlu akan melahirkan menteri perpustakaan. Jika menteri pendidikan hanya berfokus pada pendidikan  maka dengan lahirnya menteri perpustakaan, para pustakawan dan perpustakaan itu sendiri akan menadapat perhatian.
Dengan semua hal di atas, pustakawan dan  perpustakaan akan mengalami kemajuan seperti negara asing lainnya dan anak-anak yang tak mampu mengenyam pendidikan di bangku sekolah ia bisa mendapatkannya di perpustakaan secara cuma-cuma. Karena walau sudah beredar dana BOS untuk anak yang kurang mampu nyatanya sampai detik ini masih ada saja yang tak mendapatkan pendidikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar